Harga Bijih Besi Melonjak Ke Titik Tertinggi

  • Whatsapp

Forex Online Indonesia – Sebelumnya pada awal tahun lalu, harga bijih besi diprediksi hanya akan berada di kisaran harga US$70 hingga US$75 per ton. Namun pada awal Februari lalu, harga bijih besi sedikit demi sedikit merangkak naik bahkan ke titik tertinggi untuk pasar Singapura. Padahal hal ini juga terjadi seiring dengan kuatnya pengeluaran baja oleh China yang masih kuat meskipun minim ketersediaan di Port.

Bank Suisse Group AG sendiri awalnya telah memprediksi harganya pada kuartal pertama yang hanya mencapai US$65 per ton. Namun ternyata prediksi awal tersebut terlalu rendah dan bahkan harga terkini telah melampaui angka tersebut. Penyebabnya adalah karena faktor pasokan dan permintaan yang mempengaruhi harga terus berubah.

Read More

Musim Dingin Cina Juga Turut Mempengaruhi

Tak begitu kuatnya musim dingin di Cina juga disebut-sebut turut andil dalam perubahan harga bijih besi ini. Musim dingin yang juga tidak berlangsung lama ini memberikan sentimen baik pada harga biji besi yang mana permintaan akan bijih besi terus menguat hingga akhir 2018 lalu meskipun pasokan relatif melemah pada semester kedua 2018 lalu.

Catatan naiknya harga bijih besi mulai tercatat pada angka 0,26% yakni naik hingga angka US$75,3 pada hari Selesa, 15 Januari 2019 lalu. Namun, Analis Goldman Sachs Hui Shan memprediksi bahwa kenaikan Arga bijih besi yang cukup tinggi ini takkan bertahan lama dan akan anjlok dalam jangka waktu enam bulan ke depan. Angka anjloknya pun diprediksi jauh yakni pada angka US$60 saja. Namun hingga awal Februari ke depan, reli peningkatan harga bijih besi semakin meningkat karena sentimen yang menambah gejolak pasar.

Kelangkaan Pasokan Bijih Besi

Kekhawatiran akan kelangkaan bijih besi di Australia menyebabkan lonjakan lebih dari 5 persen pada awal bulan Februari ini. Lonjakan ini bahkan mencapai titik tertinggi sejak tahun 2014 lalu. Hal ini disebabkan karena adanya krisis di penambang utama Vale SA yang diprediksi akan membuat komoditas tambang ini menjadi langka karena defisit pasokan.

Bahkan karena kejadian tersebut, Futures melonjak hingga ke level tertingginya di angka $94 per ton di Singapura untuk lima tahun ini. Dilansir dari Blomberg, kenaikan tersebut mewakili kenaikan mingguan 11 persen yang mana pada pekan lalu sendiri telah mengalami penguatan sebanyak 14 persen.

Meskipun mengalami kenaikan harga, reli biji besi yang biasanya menjadi berita positif untuk dolar Australia ini ditanggapi dingin. Padahal logam merupakan salah satu ekspor utama dari Australia. Penyebab utama tanggapan dingin pada naiknya harga bijih besi tersebut dikarenakan pasar hanya fokus pada perubahan dovish RBA untuk panduan suku bunga.

Sentimen Lain Kelangkaan Bijih Besi

Di tengah kelangkaan komoditas bijih besi, terdapat sentimen lain yang menyebabkan gejolak pada pasar. Lisensi Vale SA untuk penambangan di salah satu bendungan yang merupakan salah satu lokasi penambangan terbesarnya dicabut oleh Pemerintah Brazil. Hal ini semakin membayangi pasar bijih besi untuk semakin suram karena kelangkaan yang belum memenuhi pasokannya.

Pihak Vale SA sendiri sudah mempersiapkan strategi untuk menutup kebutuhan pasokannya. Sedangkan Goldman Sachs Group berharap untuk penambang lainnya untuk meningkatkan produksi agar dapat mengimbangi pasokan bijih besi yang harganya semakin menunjukkan reli penguatan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *