Jatuh Bangun Dollar AS

  • Whatsapp

Forex Online Indonesia – Setelah sempat meningkat pada minggu lalu, Dollar kembali jatuh terhadap sekeranjang rekan-rekannya pada hari Senin minggu ke tiga bulan Februari. Dugaan kuat melemahnya Dollar AS ini adalah karena meningkatnya ekspektasi kesepakatan perdagangan AS-China yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu sehingga mendorong investor untuk berpindah dari aset safe haven dollar pada aset berisiko.

Baca Juga : Poundsterling Melorot Karena GDP Inggris Jatuh

Read More

Penurunan indeks dollar AS yang diperdagangkan berada di poin 96.73 atau turun 0,17 persen atau 0,16 poin dari penutupan akhir pekan lalu. Angka dollar pekan lalu bahkan menguat dimana indeks dollar awalnya berada di level 97.10 kemudian menguat tipis di level 97.02. Pekan lalu, baik di sisi Amerika Serikat maupun China sama-sama melaporkan kemajuan dalam negosiasi yang berlangsung selama lima hari di Beijing. Walaupun demikian, Gedung Putih selaku pusat pemerintahan AS menyatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Hal ini guna memaksa perubahan perilaku perdagangan China.

Pekan depan, negosiasi akan berlanjut di Washington setelah sebelumnya berada di Beijing. Dalam negosiasi tersebut investor banyak berharap untuk akhir dari perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia yakni AS dan China. Michael McCarthy selaku Kepala Strategi pasar di CMC Markets mengatakan bahwa perdagangan adalah fokus besar bagi pasar. Dimana dia melanjutkan bahwa dengan pembicaraan bergeser dari Beijing ke Washington, AS bisa mendapatkan lebih banyak aliran berita.

Sebelumnya pada hari Jumat pekan lalu, Dollar bergerak stabil hingga pembukaan perdagangan sesi Eropa. Padahal di hari kamis malam, Dollar sempat terpukul oleh rilis data penjualan ritel AS yang buruk. Beberapa data penjualan ritel AS dan ritel inti AS menunjukkan bahwa selama bulan Januari angka ritel menurun 1,8% yang mana bahkan angka tersebut lebih buruk dari ekspektasi pasar yang berada di angka 0,0%.

Data penjualan ritel Amerika Serikat yang tercatat pada Kamis malam memecahkan rekor yang mana merupakan data terburuk sejak September 2009. Bahkan buruknya data tersebut memberikan sinyal adanya pelemahan di sektor konsumsi. Akan ada kemungkinan jika The Fed hampir secara pasti untuk tidak mengubah kebijakannya di tahun ini mengingat buruknya data ritel tersebut. Bahkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pun juga sama-sama memiliki kemungkinan untuk berkurang.

Meski mengalami pelemahan terhadap mata uang utama lainnya, dollar masih memperlihatkan keunggulannya jika dibandingkan dengan Zona Euro, Inggris, dan Australia pada awalnya. Dari situ dapat disimpulkan bahwa perekonomian AS masih dikatakan solid yang juga sebelumnya telah didukung secara optimis oleh pimpinan The Fed, Jerome Powell, terhadap perekonomian AS pada bulan kedua 2019 ini.

Baca Juga : Harga Bijih Besi Melonjak Ke Titik Tertinggi

Sedangkan dollar Australia sendiri yang sebelumnya kalah unggul dengan dollar AS sekarang kembali menguat. Dollar Aussie menguat ke level tertinggi harian yakni berada di angka $ 0,7158. Sebelumnya dollar Aussie juga menunjukkan tren kenaikan pada hari Jumat dengan menguat 0,48. Kenaikan tersebut muncul dengan harapan akan terjadinya terobosan baru dalam pembicaraan perdagangan AS-China yang sudah terjadi dan akan dilanjutkan di Washington.

Terobosan baru tersebut juga termasuk keputusan Presiden AS Donald Trump yang menangguhkan batas waktu gencatan perang perdagangan antara AS dan China yang awalnya akan berakhir pada 1 Maret menjadi 60 hari atau dua bulan ke belakang. Kesepakatan ini juga diharapkan akan mendorong ekonomi China yang saat ini sedang dalam posisi melambat. Padahal posisi China saat ini adalah sebagai proxy dari kondisi ekonomi Australia yang mana juga akan mempengaruhi prospek ekonomi Australia kedepannya. Saat penulisan, AUDUSD diperdagangkan di 0.7152 , naik 0,22 persen atau 16 pip.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *