Poundsterling Melorot Karena GDP Inggris Jatuh

  • Whatsapp

Forex Online Indonesia – Deadline untuk Inggris keluar dari Uni Eropa atau yang dikenal sebagai Brexit atau Britain Exit ini memang secara tidak langsung mempengaruhi perekonomian Inggris terutama untuk mata uangnya. Pada tanggal 29 Maret 2019, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa ini akan sah sejak diputuskan dan disetujui oleh European Court pada 29 Maret 2017 lalu.

Baca Juga : Harga Bijih Besi Melonjak Ke Titik Tertinggi

Read More

Terhitung sudah tinggal beberapa hari lagi hingga deadline tersebut datang dan dampaknya pun semakin terlihat pada mata uang Poundsterling yang dalam beberapa hari ini mengalami kemerosotan. Bahkan kemerosotan dari Poundsterling terhadap Dolar Amerika mencapai titik 1,2899. Hal ini juga merupakan dampak dari penurunan Gross Domestic Produk dari Inggris yang pada bulan Desember lalu dilaporkan berada di angka -0.4 persen (Month-over-Month)

Penurunan GDP Inggris hingga menyentuh angka -0.4 persen sendiri memang diakui oleh UK Office for National Statistic atau ONS sebagai bentuk ekspetasi pasar. Padahal sebelumnya di bulan November, Gross Domsetic Product dari Inggris memiliki angka yang cukup tinggi yakni +0.2 Persen. Prediksi perkembangan GDP ini pun masih mengkhawatirkan dan menganggap perekonomian Inggris semakin rapuh.

Sedangkan untuk GDP per kuartalan yang dilaporkan pun hanya berada pada poin +0.2 persen (Quarter-per-Quarter) yang sebelumnya ditargetkan pada angka +0.3 persen. Tren penurunan ini pun terjadi pada GDP tahunan yakni dari angka +1.6 persen menjadi +1.3 persen yang dihitung pada kuartal IV tahun 2018 lalu.

Isu rapuhnya perekonomian Inggris di awal tahun 2019 ini juga terindikasi pada sektor industri dan juga manufaktur. Beberapa data lainnya juga menunjukkan tren penurunan dari ekspetasi yakni untuk produksi industri mencatatkan angka -0.5 persen (Month-per-Month) sedangkan untuk produksi Manufaktur mencatatkan angka -0.7 persen untuk periode yang sama.

Chart GBPUSD 12/02/2019
Chart GBPUSD 12/02/2019

Hal yang sama juga terjadi pada sektor jasa yang selama ini bisa bertahan dan juga lebih kuat ketimbang produksi industri dan juga manufaktur. Alhasil, sektor jasa ini juga turut terkena dampak dari perlambatan ekonomi Inggris saat ini. Indeks Jasa atau Index of Service yag dilaporkan oleh ONS menampilkan perbedaan dengan angka -0.2 persen yang jauh dari ekspetasi awal yang berada di angka +0.3.

Melihat respon Poundsterling terhadap GDP Inggris tersebut yang masih juga melihat perkembangan isu Brexit ini menjadi fokus pasar. Pihak trader maupun investor masih menunggu dengan mempertahankan posisinya sambil menanti keputusan Inggris apakah benar akan benar keluar pada 29 Maret 2019 tersebut atau tidak. Langkah ini dikenal dengan posisi Wait and See. Apabila akan tetap keluar pun, apakah akan ada kesepakatan atau bahkan sangsi tersendiri bagi Inggris atau tidak.

Dari isu ini memang dianggap wajar bagi investor dan juga trader untuk mengindari langkah yang akan merugikan nantinya setelah keputusan dari Pemerintah Inggris keluar. Reaksi investor dan juga trader ini sendiri juga mendapat komentar dari James Smith dari ING Bank NV yang menyatakan bahwa dalam beberapa pekan kedepan akan ada kemungkinan menyaksikan perusahaan yang semakin banyak menerapkan rencana kontijengsi. Hal ini mungkin dianggap akan memberi angin positif bagi pertumbuhan Inggris.

Meskipun demikian, James juga menambahkan bahwa masih ada kemungkinan untuk menghindari “No-Deal” pada 29 Maret mendatang juga kemungkinan dengan diperpanjangnya Article 50. Hanya saja tetap hal tersebut takkan dapat ditebak dan diketahui hingga menjelang detik-detik terakhir menuju Brexit.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *